Rabu, 16 November 2011

“PERSONAL HYGIENE PADA IBU HAMIL”

PERSONAL HYGIENE (KEBERSIHAN DIRI) PADA IBU HAMIL

A. Pengertian Personal Hygiene

· Hygiene adalah ilmu kesehatan.

· Hygiene perorangan adalah cara perawatan diri manusia untuk memelihara kesehatan mereka (Perry & Potter, 2006)

· Personal hygiene adalah kebersihan yang dilakukan untuk diri sendiri.

Kebersihan badan mengurangkan kemungkinan infeksi, karena badan yang kotor banyak mengandung kuman-kuman. Terutama Kebersihan diri pada masa hamil. Cara perawatan diri menjadi rumit dikarenakan kondisi fisik atau keadaan emosional seseorang. Pemeliharaan hygiene perorangan diperlukan untuk kenyamanan individu, keamanan, dan kesehatan.

B. . Manfaat Personal Hygiene

1. Meningkatkan derajat kesehatan seseorang

2. Memelihara kebersihan diri seseorang

3. Memperbaiki personal hyiene yang kurang

4. Mencegah penyakit

5. Menciptakan keindahan

6. Meningkatkan rasa percaya diri

C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Personal Hygiene

1. Body image

Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihan diri misalnya karena adanya perubahan fisik sehingga individu tidak peduli terhadap kebersihannya.

2. Praktik social

Pada anak-anak selalu dimanja dalam kebersihan diri, maka kemungkinan akan terjadi perubahan pola Personal Hygiene

3. Status sosial-ekonomi

Personal Hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi, sikat gigi, sampo, alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk menyediakannya

4. Pengetahuan

Pengetahuan Personal Hygiene sangat penting karena pengetahuan yang baik dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya pada pasien penderita DM ia harus menjaga kebersihan kakinya.

5. Budaya

Di sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu maka tidak boleh dimandikan.

6. Kebiasaan seseorang

Ada kebiasaan seseorang yang menggunakan produk tertentu dalam perawatan dirinya seperti penggunaan sabun, sampo, dan lain-lain.

7. Kondisi fisik

Pada keadaan sakit tertentu kemampuan untuk merawat diri berkurang dan perlu bantuan untuk melakukannya.

D. Dampak yang Sering Timbul pada Masalah Personal Hyiene

1. Dampak Fisik

Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak terpeliharanya kebersihan perorangan dengan baik. Gangguan fisik yang sering terjadi adalah gangguan integritas kulit, gangguan membrane mukosa mulut, infeksi pada mata dan telinga, dan gangguan fisik pada kuku.

2. Dampak Psikososial

Masalah social yang berhubungan dengan Personal Hygiene adalah gangguan kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai, kebutuhan harga diri, aktualisasi diri dan gangguan interaksi sosial.

E. Jenis-Jenis Personal Hygiene

1. Perawatan gigi

Selama hamil, ibu perlu lebih menjaga kebersihan diri, karena dengan adanya perubahan hormonal, maka rongga mulut dan jalan lahir peka terhadap infeksi, ibu perlu mandi dan sikat gigi secara teratur, minimal 2 kali sehari. Kebersihan gigi dan mulut, perlu mendapat perhatian karena seringkali mudah terjadi gigi berlubang, terutama pada ibu yang kekurangan kalsium. Rasa mual selama masa hamil dapat mengakibatkan perburukan hygiene mulut dan dapat menimbulkan karies gigi.

Perawatan gigi perlu dalam kehamilan karena hanya gigi yang baik menjamin pencernaan yang sempurna. Caranya antara lain :

· Tambal gigi yang berlubang

· Mengobati gigi yang terinfeksi

· Untuk mencegah caries:

- Menyikat gigi dengan teratur, Sikat gigi minimal dua kali sehari/sehabis makan lalu bilas.

- Membilas mulut dengan air setelah makan atau minum apa saja

- Gunakan pencuci mulut yang bersifat alkali atau basa

- Menyikat gigi sebelum tidur penting.

- Ketika gosok gigi, perhatikan untuk membersihkan partikel makanan yang tersangkut diantara dan didalam celah antara gigi rata dibelakang, gigi geraham dan gigi geraham bungsu.

- Sikat dengan arah kebawah untuk gigi atas dan sikat kearah atas untuk gigi bawah.

- Gunakan gerakan melingkar. Bersihkan juga lidah dan bagian dalam gigi.

- Sikat gigi harus memiliki ujung bulu yang dapat kembali ke bentuk semula.

- Sikat harus dibilas bersih dan kering setelah dipakai.

- Tidak ada pasta gigi yang sempurna. Gunakan pasta gigi yang tidak mengandung bahan pengasah atau antiseptic yang kuat.

2. Mandi

Ø Mandi dianjurkan sedikitnya 2 kali sehari karena ibu hamil cenderung untuk mengeluarkan banyak keringat, menjaga kebersihan diri terutama lipatan kulit (ketiak, bawah buah dada, daerah genetalia) dengan cara dibersihkan dengan air dan dikeringkan.

Ø Orang yang aktif berolahraga/ bekerja diluar hingga berkeringat disarankan untuk mandi setelah aktivitas.

Ø Gunakan sabun ringan secukupnya, spon mandi dapat digunakan untuk menggosok, atau gunakan penggosok punggung atau penggosok tumit jika tersedia.

Ø Bagian genital dan dubur harus dibersihkan karena pengeluaran alami pada area ini, jika dalam kondisi tidak higienis, dapat menyebabkan iritas dan infeksi.

Ø Bilas dengan bersih setelah memakai sabun.

Ø Keringkan badan dengan handuk bersih.

Ø Hindari berbagi sabun dan handuk dengan rekan kerja.

Ø Ganti dengan baju dalam yang bersih setelah mandi

Manfaat mandi:

· Merangsang sirkulasi

· Menyegarkan

· Menghilangkan kotoran yang harus diperhatikan:

- Mandi hati-hati jangan sampai jatuh

- Air harus bersih

- Tidak terlalu dingin atau tidak terlalu panas

- Gunakan sabun yang mengandung antiseptic

3. Perawatan rambut

· Cuci rambut minimal dua kali seminggu menggunakan sampo ringan, bilas dengan air bersih.

· Keringkan rambut setelah dicuci.

· Sisirlah rambut 3 hingga 4 kali sehari dengan sikat rambut berbulu lembut atau sisir bergigi jarang.

· Cuci sikat rambut atau sisir setiap kali anda mencuci rambut.

· Minyaki kulit kepala, sekali seminggu, atau sejam sebelum mencuci rambut

4. Payudara

Pemeliharaan payudara juga penting, puting susu harus dibersihkan kalau terbasahi oleh colostrum. Kalau dibiarkan dapat terjadi eczema pada puting susu dan sekitarnya. Puting susu yang masuk diusahakan supaya keluar dengan pemijatan keluar setiap kali mandi.

5. Perawatan vagina / vulva

Wanita yang hamil jangan melakukan irrigasi vagina kecuali dengan nasihat dokter karena irrigasi dalam kehamilan dapat menimbulkan emboli udara. Hal – hal yang harus diperhatikan adalah:

· Celana dalam harus kering

· Jangan gunakan obat / menyemprot ke dalam vagina

· Sesudah BAB / BAK dilap dengan lap khusus

Tips yang dapat dilakukan:

Jaga kebersihan daerah V (vagina/kemaluan) dengan baik.

· Bersihkan dan keringkan selalu bagian tersebut.

· Gantilah celana dalam lebih sering bila perlu.

· Pakailah celana dalam dari bahan katun, yang lebih mudah menyerap.

6. Perawatan kuku

· Memanjangkan kuku hanya jika anda menjamin kebersihan kuku. Kuku pendek mengurangi masalah.

· Jangan memotong kuku terlalu dekat dengan ujung kulit.

· Badan sehat mempunyai kuku sehat. Kuku rapuh/tak berwarna merah mengindikasikan kondisi kurang sehat atau adanya penyakit.

· Mengecat kuku terus menerus dapat menyebabkan keratin atau kuku robek.

Cara pembersihan kuku:

a. Rendam kuku dengan air hangat ± 2 menit. Sikatlah kuku dan beri sabun jika kotor

b. Keringkan dengan handuk

c. Kemudian lakukan pemotongan kuku

7. Mencuci tangan

Cuci tangan sesering mungkin, Karena dengan cuci tangan akan mencegah penyebaran kuman dan virus yang dapat menyebakan penyakit. Terutama ketika:

· setelah memegang daging mentah pada saat memasak,

· setelah menggunakan kamar kecil

· setelah memegang hewan peliharaan.

· sebelum atau sesudah melakukan aktivitas tertentu.

· Sebelum, selama & sesudah menyiapkan makanan

· Ketika batuk, bersin/ meniup hidung, dan berada didekat seseorang yang sedang sakit untuk mengontrol penyebaran kuman yang dapat menyebabkan pilek dan flu

· Ketika memasak/ membungkus makanan, mencegah makanan dari kerusakan dan mengurangi kontaminasi. Ketika menangani makanan jangan menggaruk/ memegang telinga, hidung, mulut, atau luka terbuka.

Cara mencuci tangan yang baik:

Ø Basahi tangan dibawah kran dan gunakan sabun batang/ sabun cair. Semua bagian tangan harus terkena air, semua permukaan kulit termasuk jari tangan, kuku dan bagian belakang telapak tangan digosok dengan busa sabun minimal 20 detik, bilas tangan dengan air

Ø Keringkan tangan dengan handuk bersih/ handuk disposable setelah mencuci.

Ø Handuk ditempat cuci tangan harus dicuci dan diganti setiap hari

Ø Untuk beberapa aktivitas lain, hand sanitizer tidak dapat menggantikan pencucian tangan. Mencuci tangan menggunakan hand sanitizer, dengan menuangkan sejumlah sanitizer ke telapak tangan, kemudian menggosok kedua tangan bersama hingga kering, pastikan telah mencakup semua permukaan tangan.

MAKALAH ANATOMI “MALDESENSUS TESTIS (KRIPTORKISMUS)”

 MALDESENSUS TESTIS (KRIPTORKISMUS)

2.1            PENGERTIAN

Kriptorkismus berasal dari kata cryptos (Yunani) yang berarti tersembunyi dan orchis (latin) yang berarti testis. Nama lain dari kriptorkismus adalah undescended testis, tetapi harus dijelaskan lanjut apakah yang di maksud kriptorkismus murni, testis ektopik, atau pseudokriptorkismus. Kriptorkismus murni adalah suatu keadaan dimana setelah usia satu tahun, satu atau dua testis tidak berada didalam kantong skrotum, tetapi berada di salah satu tempat sepanjang jalur penurunan testis yang normal. Sedang bila diluar jalur normal disebut testis ektopik, dan yang terletak di jalur normal tetapi tidak didalam skrotum dan dapat didorong masuk ke skrotum serta naik lagi bila dilepaskan disebut pseudokritorkismus atau testis retraktil
Pada masa janin, testis berada di rongga abdomen dan beberapa saat sebelum bayi dilahirkan, testis mengalami desensus testikulorum atau turun ke dalam kantung skrotum. Diduga ada beberapa faktor yang mempengaruhi penurunan testis ke dalam skrotum, antara lain:
  (1) adanya tarikan dari gubernakulum testis dan refleks dari otot kremaster,
  (2) perbedaan pertumbuhan gubernakulum dengan pertumbuhan badan,dan
  (3) dorongan dari tekanan intraabdominal
Oleh karena sesuatu hal, proses desensus testikulorum tidak berjalan dengan baik sehingga testis tidak  berada di dalam kantong skrotum (maldesensus). Dalam hal ini mungkin testis tidak mampu mencapai skrotum tetapi masih berada pada jalurnya yang normal, keadaan ini disebut kriptorkismus, atau pada proses desensus, testis tersesat (keluar) dari jalurnya yang normal, keadaan ini disebut sebagai testis ektopik.
Testis yang belum turun ke kantung skrotum dan masih berada dijalurnya mungkin terletak di kanalis inguinalis atau di rongga abdomen yaitu terletak di antara fossa renalis dan anulus inguinalis internus. Testis ektopik mungkin berada di perineal, di luar kanalis inguinalis yaitu diantara aponeurosis obligus eksternus dan jaringan subkutan, suprapubik, atau di regio femoral.
Major , 1974  membagi kriptorkismus (dalam pengertian umum) membagi menjadi:
1.  Retensio Testis (dystopy of testicle) à Diklasifikasikan sesuai tempatnya
1.  a. Abdominal testicle (retensi abdominal)
1.  Canalicular testicle ( retensio canalicularis superior et inferior) : testis benar-benar tak teraba
2.  Inguinal testicle ( retensio inguinalis) : testis teraba di depan anulus inguinalis eksternus
3.  Testis reflexus (superfisial inguinal ectopy): bentuk paling umum. Testis sebenarnya tidak melenceng dari alur normal. Gubernakulum memandu testis menuju bagian bawah skrotum. Testis hanya bertempat di anterior aponeurosis muskulus obliquus abdominis eksternus dan sesungguhnya ini bukan suatu testis ektopik
            2. The True Ectopic Testis
Di sini testis melewati canalis inguinalis tetapi kemudian menempati daerah perineum, suprapubic dorsal pangkal penis, bawah kulit pangkal femur sisi medial.
            3. The Floating Testicle
Pada anak-anak kontraksi muskulus kremaster dapat mengangkat testis dari posisis normal menuju kanalis inguinalis. Refleks ini dipicu oleh rangsang dingin atau sentuhan. Jangan keliru menganggap posisi ini dengan retensi testis. Tipe ini dibagi menjadi :
a. The Slidding Testicle ( Uper retractile type)
Testis dapat teraba dengan baikdari midskrotum ke atas sampai di depan aponeurosis muskulus obliquus abdominis eksternus di atas anulus inguinalis eksternus.
b. The Pendulant testicle (Lower Retractile Type)
Testis bergerak bolak-balik antar bagian terbawah skrotum dan anulus inguinalis eksternus.

2.2            ETIOLOGI
Penyebab  pasti kriptorkismus belum jelas. Beberapa hal yang berhubungan adalah:
a.     Abnormalitas gubernakulum testis
Penurunan testis dipandu oleh gubernakulum. Massa gubernakulum yang besar akan mendilatasi jalan testis, kontraksi, involusi, dan traksi serta fiksasi pada skrotum akan menempatkan testis dalam kantong skrotum. Ketika tesis telah berada di kantong skrotum gubernakulum akan diresorbsi (Backhouse, 1966) Bila struktur ini tidak terbentuk atau terbentuk abnormal akan menyebabkan maldesensus testis.
b.     Defek intrinsik testis
Maldesensus dapat disebabkan disgenesis gonadal dimana kelainan ini membuat testis tidak sensitif terhadap hormon gonadotropin. Teori ini merupakan penjelasan terbaik pada kasus kriptorkismus unilateral. Juga untuk menerangkan mengapa pada pasien dengan kriptorkismus bilateral menjadi steril ketika diberikan terapi definitif pada umur yang optimum. Banyak kasus kriptorkismus yang secara histologis normal saat lahir, tetapi testisnya menjadi atrofi / disgenesis pada akhir usia 1 tahun dan jumlah sel germinalnya sangat berkurang pada akhir usia 2 tahun.
c.      Defisiensi stimulasi hormonal / endokrin
Hormon gonadotropin maternal yang inadequat menyebabkan desensus inkomplet. Hal ini memperjelas kasus kriptorkismus bilateral pada bayi prematur ketika perkembangan gonadotropin maternal tetap dalam kadar rendah sampai 2 minggu terakhir kehamilan. Tetapi teori ini sulit diterapkan pada kriptorkismus unilateral.  Tingginya kriptorkismus pada prematur diduga terjadi karena tidak adequatnya HCG menstimulasi pelepasan testosteron masa fetus akibat dari imaturnya sel Leydig dan imaturnya aksis hipothalamus-hipofisis-testis. Dilaporkan suatu percobaan menunjukkan desensus testis tidak terjadi pada mamalia yang hipofisenya telah diangkat .
Rasfer et al (1986) memperlihatkan penurunan testis dimediasi oleh androgen yang diatur lebih tinggi oleh gonadotropin pituitary. Proses ini memicu kadar dihidrotestotsteron yang cukup tinggi, dengan hasil testis mempunyai akses yang bebas ke skrotum . Toppari & Kaleva menyebut defek dari aksis hipotalamus-pituitary-gonadal akan mempengaruhi turunnya testis. Hormon utama yang mengatur testis adalah LH dan FSH yang doproduksi oleh sel basofilik di pituitary anterior yang diatur oleh LHRH. FSH akan mempengaruhi mempengaruhi sel sertoli, epitel tubulus seminiferus. Kadar FSH naik pada kelainan testis
Kriptorkismus yang disertai defisiensi gonadotropin dan adrenal hipoplasia kongenital mungkin berhubungan dengan sifat herediter. Corbus dan O’Connor, Perreh dan O’Rourke melaporkan beberapa generasi kriptorkismus dalam satu keluarga2. Juga ada penelitian yang menunjukkan tak aktifnya hormon Insulin Like Factor 3 ( Insl3) sangat mempengaruhi desensus testis . Insl3 diperlukan untuk diferensiasi dan proliferasi gubernakulum. Faktor lain yang diduga berperan ialah berkurangnya stimulating substances yang diproduksi oleh nervus genitofemoralis
Penderita kriptorkismus atau bekas kriptorkismus mempunyai resiko lebih tinggi terjadinya tumor testis ganas. Walaupun pembedahan kriptorkismus pada usia muda mengurangi insidens tumor sedikit, resiko terjadinya tumor tetap tinggi. Kriptorkismus merupakan suatu ekspresi disgenesia gonad yang berhubungan dengan transformasi ganas. Penggunaan hormon dietilstilbestrol yang terkenal sebagai DES oleh ibu pada kehamilan dini meningkatkan resiko tumor maligna pada alat kelamin bayi pada usia dewasa muda.

2.3            Patofisiologi dan Patogenesis
Suhu di dalam rongga abdomen ± 10C lebih tinggi daripada suhu di dalam skrotum, sehingga testis abdominal selalu mendapatkan suhu yang lebih tinggi daripada testis normal; hal ini mengakibatkan kerusakan sel-sel epitel germinal testis. Pada usia 2 tahun, sebanyak 1/5 bagian dari sel-sel germinal testis telah mengalami kerusakan, sedangkan pada usia 3 tahun hanya 1/3 sel-sel germinal yang masih normal. Kerusakan ini makin lama makin progresif dan akhirnya testis menjadi mengecil.
Karena sel-sel Leydig sebagai penghasil hormon androgen tidak ikut rusak, maka potensi seksual tidak mengalami gangguan.
Akibat lain yang ditimbulkan dari letak testis yang tidak berada di skrotum adalah mudah terpluntir (torsio), mudah terkena trauma, dan lebih mudah mengalami degenerasi maligna.
Letak testis maldesensus. Gambar diatas adalah beberapa letak testis kriptorkismus yaitu 1. Testis retraktil, 2. Inguinal, dan 3. Abdominal, sedangkan gambar di sebelah kiri menunjukkan testis ektopik, antara lain: 4. Inguinal superfisial, 5. Penil, 6. Femor

2.4            PENANGANAN
Pada prinsipnya testis yang tidak berada di skrotum harus diturunkan ke tempatnya, baik dengan cara medikamentosa maupun pembedahan. Dengan asumsi bahwa jika dibiarkan, testis tidak dapat turun sendiri setelah usia 1 tahun sedangkan setelah usia 2 tahun terjadi kerusakan testis yang cukup bermakna, maka saat yang tepat untuk melakukan terapi adalah pada usia 1 tahun.
Cara penanganan Maldesensus Testis:         
1. MEDIKAMENTOSA
Pemberian hormonal pada kriptorkismus banyak memberikan hasil terutama pada kelainan bilateral, sedangkan pada kelainan unilateral hasilnya masih belum memuaskan. Obat yang sering dipergunakan adalah hormon hCG yang disemprotkan intranasal.
Hormon yang diberikan :
a. HCG
Hormon ini akan merangsang sel Leydig menproduksi testosteron. Dosis : Menurut Mosier (1984) : 1000 – 4000 IU, 3 kali seminggu selama 3 minggu. Garagorri (1982) : 500 -1500 IU, intramuskuler, 9 kali selang sehari. Ahli lain memberikan 3300 IU, 3 kali selang sehari untuk UDT unilateral dan 500 IU  20 kali dengan  3 kali seminggu. Injeksi HCH tidak boleh diberikan tiap hari untuk mencegah desensitisasi sel Leydig terhadap HCG yang akan menyebabkan steroidogenic refractoriness.
Hindari dosis tinggi karena menyebabkan efek refrakter testis terhadap HCG, udem interstisial testis, gangguan tubulus dan efek toksis testis. Kadar testosteron diperiksa pre dan post unjeksi, bila belum ada respon dapat diulang 6 bulan berikutnya. Kontraindikasi HCG ialah  UDT dengan hernia, pasca operasi hernia, orchydopexy, dan testis ektopik.  Miller (16) memberikan HCG pada pasien sekaligus untuk membedakan antara UDT dan testis retraktil. Hasilnya 20% UDT dapat diturunkan sampai posisi normal, dan 58% retraktil testis dapat normal.
b.  LHRH
Dosis 3 x 400 ug intranasal, selama 4 minggu. Akan menurunkan testis secara komplet sebesar 30 – 64 %.
c. HCG kombinasi LHRH
Dosis : LHRH 3 x 400 ug, intranasal, 4 minggu . Dilanjutkan HCG intramuskuler 5 kali pemberian selang sehari. Usia kurang 2 tahun : 5 x 250 ug,  3 -5 tahun : 5 x 500 ug, di atas 5 tahun : 5 x 1000 ug.
Respon terapi : penurunan testis 86,4%, dengan follow up 2 tahun kemudian keberhasilannya bertahan 70,6%
2. OPERASI
              Tujuan operasi pada kriptorkismus adalah:
    (1) mempertahankan fertilitas,
    (2) mencegah timbulnya degenerasi maligna,
    (3) mencegah kemungkinan terjadinya torsio testis,
    (4) melakukan koreksi hernia, dan
    (5) secara psikologis mencegah terjadinya rasa rendah diri karena tidak
         mempunyai testis.
     Operasi yang dikerjakan adalah orkidopeksi yaitu meletakkan testis ke dalam skrotum dengan melakukan fiksasi pada kantong sub dartos.
           Tujuan dari penanganan UDT adalah :
1.  Meningkatkan vertilitas
2.  Mencegah torsio testis
3.  Mengurangi resiko cidera khususnya bila testis terletak di tuberkulum pubik
4.  Mengkoreksi kelainan lain yang menyertai, seperti hernia
5.  Mencegah / deteksi awal dari keganasan testis
6.    Membentuk body image

2.5            PENCEGAHAN
Pencegahan terhadap penyakit testis dengan beberapa perubahan gaya hidup yang sederhana.dapat secara drastis mengurangi risiko berbagai jenis penyakit testis dan penyakit kanker lainnya. Banyak faktor yang berperan dalam perkembangan penyakit tersebut.
a.     Menghindari seks bebas
Faktor utama penyebab dari penyakit testis adalah karena  seseorang malakukan seks bebas diluar jangkauan, banyak orang tidak memakai pengaman dan hanya oral kesenangan. Pencegahan untuk tidak melakukan seks bebas menganjurkan kita untuk sadar akan bahaya dan dampaknya.

b.    Hindari merokok dan Paparan terhadap Asap

Merokok adalah kanker yang paling signifikan sebagai faktor resiko yang kita dapat mengurangi.Hal ini bertanggung jawab untuk tidak hanya kanker paru-paru , tetapi jenis-jenis kanker lainnya. Salah satu cara terbaik untuk mencegah kanker adalah dengan berhenti merokok atau tidak pernah memulai. Segera setelah Anda berhenti , dan tidak pernah terlambat, tubuh yang menuai manfaat menjadi tembakau-bebas.
Menghindari perokok pasif juga merupakan cara untuk mencegah kanker.Asap rokok adalah asap dihembuskan dari seorang perokok atau rokok pipa, menyala atau cerutu. Asap ini mengandung lebih dari 60 dikenal karsinogen ,interupsi normal sel karsinogen ini gangguan perkembangan Inilah yang menyatu perkembangan kanker.

c.      Praktek Keselamatan dan Kenali Ketika Perubahan Kulit Terjadi

Apakah Anda tahu bahwa lebih dari satu juta orang Amerika yang didiagnosis dengan kanker kulit setiap tahunnya?.Kanker kulit adalah jenis yang paling umum kanker antara pria dan wanita, dan ini menyumbang sekitar setengah dari semua diagnosis kanker. Kabar baiknya adalah bahwa kanker kulit adalah salah satu jenis kanker yang paling dapat dicegah.
Langkah pertama dalam mencegah kanker kulit adalah untuk menghindari paparan sinar UV.  Kita dapat melakukan ini dengan memakai tabir surya, menghindari sinar matahari tengah hari, mengenakan pakaian pelindung saat di luar ruangan, dan tinggal jauh dari tanning bed. 

d.     Anda Makan Buah dan Sayuran

Diet yang seimbang adalah menguntungkan karena berbagai alasan. Diet `yang kaya buah-buahan dan sayuran sangat mengurangi resiko Anda terkena kanker berkembang dan kondisi lainnya.
Buah-buahan dan sayuran mengandung antioksidan, yang membantu memperbaiki sel-sel yang rusak . buah Hijau, jingga dan kuning dan sayuran taruhan terbaik untuk membantu mencegah kanker.  Studi juga menunjukkan bahwa buah-buahan gelap, seperti blueberry dan anggur, juga memiliki sifat anti-kanker.
sayuran seperti brokoli dan kembang kol tampaknya pak pukulan kuat untuk mencegah kanker, menurut penelitian banyak.sayuran lainnya termasuk bok choy, kubis Brussel, dan kubis.

e.      Batas Merah Daging dan Hewan Lemak

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa diet tinggi lemak hewani meningkatkan resiko beberapa jenis kanker, terutama kanker usus besar. Daging merah mengandung lebih banyak lemak daripada unggas dan ikan, sehingga mengurangi jumlah daging merah dalam diet anda dapat membantu untuk mencegah kanker. Diet tinggi lemak juga merupakan penyebab utama obesitas, yang merupakan faktor risiko berbagai jenis kanker.

f.      Batasi Asupan Alkohol Anda

Minum berlebihan alkohol secara rutin meningkatkan faktor risiko Anda untuk berbagai jenis kanker. Studi menunjukkan bahwa pria yang mengkonsumsi minuman beralkohol 2 per hari dan wanita yang telah 1 minuman beralkohol per hari secara signifikan meningkatkan faktor risiko untuk beberapa jenis kanker.

g.     Latihan untuk Pencegahan Kanker

Tahukah Anda bahwa ketika Anda berolahraga, Anda mengurangi resiko Anda untuk berbagai jenis kanker? merekomendasikan berolahraga 30 atau menit, setidaknya 5 hari seminggu untuk pencegahan kanker.Berolahraga tidak harus berarti pergi ke gym untuk mengangkat beban. Ada banyak cara untuk mendapatkan latihan di hari Anda. 

h.    Tahu Sejarah Pribadi dan Keluarga Medis Anda

Mengetahui sejarah keluarga Anda terkena kanker adalah penting untuk benar menilai faktor risiko untuk beberapa jenis kanker.Kita tahu bahwa kanker seperti payudara, kolon, ovarium, dan mungkin jenis lainnya dapat keturunan.
Jika Anda tahu bahwa suatu jenis kanker tertentu berjalan dalam keluarga Anda, biarkan dokter Anda tahu.Bersama, Anda dapat menentukan rencana pemeriksaan yang tepat dan menilai risiko sejati Anda. Genetic testing dan konseling tersedia dan dapat direkomendasikan berdasarkan riwayat kesehatan keluarga Anda.

i.       Tahu Apa Kau Menjadi Terkena di Lingkungan Kerja Anda

Bahan kimia di tempat kerja dapat meningkatkan resiko terkena berbagai jenis kanker, termasuk kanker ginjal dan kanker kandung kemih . Jika Anda terkena asap, debu, bahan kimia, dll di tempat kerja, Anda memiliki hak hukum untuk mengetahui apa yang sedang terkena. Bensin, diesel knalpot, arsen, berilium, vinil klorida, Kromat nikel, produk batubara, gas mustard, dan eter klorometil semua karsinogen dan dapat ditemukan di beberapa lingkungan kerja. Bicaralah dengan atasan Anda tentang membatasi eksposur.
Sayangnya, kanker testis adalah jenis kanker yang tidak dapat dengan mudah dicegah.Tidak hanya tidak ada metode pencegahan terbukti.
Dengan kanker yang paling, metode terbaik pencegahan adalah menghindari faktor risiko.Tidak ada cara untuk menghindari faktor risiko untuk kanker testis karena sebagian besar berada di luar kendali orang tersebut, seperti usia, ras, dan kondisi yang terjadi saat lahir.
Perlu diketahui bahwa tidak semua orang yang menderita kanker testis memiliki faktor risiko yang meningkat. Beberapa pasien kanker testis tidak memiliki faktor risiko untuk penyakit ini, sehingga tidak mungkin untuk mencegah.

2.6            TERAPI
1.Terapi  non Bedah
Berupa terapi hormonal. Terapi ini dipilih untuk UDT bilateral palpabel inguinal. Tidak diberikan pada UDT unilateral letak tinggi atau intraabdomen. Efek terapi berupa peningkatan rugositas skrotum, ukuran testis, vas deferens, memperbaiki suplay darah, dan diduga meningkatkan ukuran dan panjang vasa funikulus spermatikus, serta menimbulkan efek kontraksi otot polos gubernakulum untuk membantu turunnya testis. Dianjurkan sebelum anak usia 2 tahun , sebaiknya bulan 10 – 24. Di FKUI terapi setelah usia 9 bulan karena hampir tidak dapat lagi terjadi penurunan spontan.

2.Terapi Bedah
Tujuan pembedahan adalah memobilisasi testis, adequatnya suplay vasa spermatika , fiksasi testis yang adequat ke skrotum, dan operasi kelainan  yang menyertainya seperti hernia.
Indikasi pembedahan
1.Terapi hormonal gagal,
2. Terjadi hernia yang potensial menimbulkan komplikasi,
3. Dicurigai torsio testis,
4. Lokasi intra abdominal atau di atas kanalis inguinalis,
5. Testis ektopik
Tahapan :satu tahap atau 2 tahap tergantung vasa spermatika apakah panjang atau pendek.
Teknik operasi pada UDT  :
1.  Orchydopexy Standar
Prinsip dari orchidopexy meliputi 3 tahap:
1. Funikulolisis
Adalah pelepasan funikulus spermatikus dari musculus kremester dan memungkinkan dapat memperpanjang ukurannya. Vasa testicularis di bebaskan sejauh mungkin ke retroperitoneal dan dimobilisasi lebih ke medial yang akan meluruskan dan memperpanjang vasa. Terdapat kesulitan ketika memobilisasi vasa diatas vasa iliaca komunis
Beberapa metode yang digunakan untuk menurunkan testis ke skrotum antara lain Ombredonne, Bevas, Torek, Cobot – Nesbit, Longord, Gersung, Denis Browne. George Major menolak metode Mauclain (menurunkan testis ke kontralateral), juga tidak setuju UDT bilateral dikerjakan sekaligus dalam satu tahap oleh karena ancaman infeksi dari kesulitan fiksasi pada septum skrotum
Funikulolisis dikerjakan melalui insisi inguinal tinggi dan testis diturunkan dengan bantuan tarikan tali (benang) transcrotal ke paha  Bila pasien UDT disertai hernia inguinalis, kantung hernia kanan dibebaskan dari ligasi seproximal mungkin, kantong vaginalis propria pada testis dan epidedimis dipertahankan, karena serosa yang membungkus testis itu penting bagi spermatogenesis.
Teknik funikulolisis menurut Beran (1903) memotong vasa testis bila vasa tersebut sangat pendek dan diharapkan vaskularisasi yang adequat dari vasa vas defferens. Tetapi teknik ini kurang bagus dengan alasan maturasi normal memerlukan suplay vaskuler yang optimal.
Teknik operasi orchydopexy standar
Akses : Menurut Ombredonne lebih menguntungkan dengan insisi inguinal tinggi yang memungkinkan mobilisasi vaskuler retroperitoneal dan menempatkan testis pada skrotum.
Funikulolisis  :
-         setelah diseksi aponeurosis m.obliqus abdominis eksternus dan membebaskan anulus inguinal eksternus dengan hati-hati untuk menghindari udema testis
-         pisahkan (split) dinding  kanalis sesuai arah seratnya sampai dengan anulus inguinalis eksternus
-         bebaskan funikulus spermatikus dan testis beserta tunikanya dari fascia dan muskulus kremaster
-         Pada kasus UDT dengan hernia, pemisahan tunika vaginalis funikulus spermatikus secara hati-hati dengan menghindari cedera vasa dan ductus deferens, dimana hal ini akan memperpanjang rentang funikulus
-         sisihkan m. Oliqus Abdominis Internus dan m. Transversus Abdominis dengan retraktor ke kraniomedial
-         diseksi funikulus spermatikus ke kranial sampai dengan lateral dari vasa epigastrika inferior
-       bila belum cukup  panjang untuk memungkinkan testis ke skrotum tanpa tegang, vasa epigastrika inferior dipotong, sehingga funikulus spermatikus dapat digeser lebih ke medial.  Bila hal ini belum dapat panjang berarti funikulus spermatikusnya memang pendek
-       sering kantong hernia kongenital atau prosesus vaginalis persisten menghambat mobilisasi funikulus, maka lepaskan kantong secara hati-hati dan ligasi tinggi. Bila peritoneum terbuka jahit secara atraumatik
-       pembebasan diatas akan lebih mudah bila gubernakulum dipotong lebih dulu kemudian dilanjut dengan pembebasan testis
-       mobilisasi lanjut ke arah retroperitoneal dilakukan dengan memotong m. obliqus abdominis internus dan m. transversus abdominis ke arah kranio lateral atau melepaskan ligamentum inguinalis
-       kemudian vasa spermatika interna dapat dibebaskan secara retroperitoneal ke kranial sampai melewati vasa iliaka
-       setinggi promontorium vasa akan menyilang ureter. Hati-hati dalam membebaskannya
      2. Pemindahan testis ke dalam skrotum (transposisi)
Bagian skrotum yang akan ditempati testis telah kosong dan menjadi lebih kecil dibanding ukuran normal. Regangkan dinding skrotum dengan diseksi jari-jari sehingga menciptakan suatu ruangan. Traksi ditempatkan pada gubernakulum Testis yang telah bebas dan funikulus spermatikusnya cukup panjang, ditempatkan pada skrotum, bukan ditarik ke skrotum.
      3. fiksasi testis dalam skrotum
Adalah hal prinsip bahwa testis berada di skrotum bukan karena tarikan dan testis tetap berada di habitat barunya, sehingga menjadi kurang tepat bila keberadaan testis di skrotum itu karena tarikan dan fiksasi testis.
Fiksasi testis tetap diperlukan:
- Untuk mengikatnya tembuskan benang pada stumb ligamentum hunteri pada pole bawah testis dengan benang nonabsorpable dan meninggalkan ujung benang yang panjang
-   perlebar skrotum dengan 2 jari, dengan bantuan jarum reverdin yang ditembuskan dari kulit skrotum sisi luar dan mengambil ujung benang panjang tadi dan  keluarkan lagi jarum .
-   Fiksasi kedua ujung benang pada sisi medial paha
-   Teknik lain yang sering di pakai adalah tehnik ombredanne yang menempatkan testis pada skrotum kontralateral dan mengikatnya pada septum scroti.
2.  Stephen Flower Orchidopexy
Merupakan modifikasi orchidopexy standar. Ketika arteri testikulariss tak cukup panjang mencapai skrotum, arteri testikularis diligasi. Jadi testis hanya mengandalkan arteri vas deferens.
3.  Orchydopexy bertahap
a. Bedah : Testis dibungkus dengan lembaran silastic dan difiksasi ke pubis pada tahap I.  Setelah 6-8 bulan dilakukan tahap II berupa eksplorasi dan memasukkan testis ke skrotum
b. Laparoskopi : Menjepit arteri testikularis  dengan laparoskopi dikerjakan  pada tahap I intuk UDT tipe abdomen. Setelah 6-8 bulan dikerjakan Stephen Flower Orchydopexy.
  4. Autotransplantasi
Pembuluh darah testis dilakukan anastomosis pada vasa epigastrika    inferior dengan teknik mikrovaskuler.
5.     Protesis Testis
Pemasangan implant testis silastik untuk kenyamanan, kosmetik, dan     psikis.